Rabu, 20 Mei 2009

Sebuah Biola untuk Nova


Sebuah Biola untuk Nova
Penulis : Fajar Hidayat

Pagi yang cerah kembali menyambut, saat mentari tipis masih bersembunyi malu di balik bukit tampak seorang gadis berambut panjang duduk di atas hijaunya padang rumput. Nama gadis itu adalah Nova, seorang gadis dengan seribu pesona yang ada padanya. Selain cantik Nova memiliki prestasi yang sangat membanggakan di sekolahnya. Dan satu hal lagi, Nova mempunyai suatu kegemaran yaitu memainkan biola. Di tengah segar udara pagi Nova dengan lembut memainkan biola di tangannya. Maka terdengarlah alunan merdu mengiringi kicau burung yang terbang dengan riangnya menyambut hari. Di saat Nova sedang asyik dengan biolanya, tiba-tiba terdengar seoarang lelaki memanggil namanya dari dalam rumah.

“Nova, dimana kamu?” teriak kakak Nova dari dalam rumah.

Mendengar panggilan itu Nova langsung menghentikan permainan biolanya dan menyembunyikannya di balik semak. Setelah menyembunyikan biola kesayangannya itu ia langsung berlari menuju rumah.

“Ya Kak ! Nova disini,“ jawab Nova dengan nafas terengah – engah.

“Dari mana saja kamu, bukankah kau seharusnya sudah harus bersiap untuk ke sekolah?” tanya kakak Nova dengan tegas.

“Nova habis dari …………” belum sempat melanjutkan kalimatnya kakak Nova sudah memotongnya.

“Bermain dengan benda tak berguna itu lagi? “ bentakan kakaknya membuat Nova hanya menundukkan kepalanya dan meneteskan air mata.

“Mengapa kamu selalu menghabiskan waktumu bersama barang rongsokan itu, bukankah lebih baik untukmu untuk belajar lebih keras supaya kelak kamu bisa menjadi dokter seperti Ayah dan Ibu dulu!“ bentak kakak Nova padanya. Kakak Nova sangat membenci biola karena orang tua mereka mengalami kecelakan dan meninggal saat perjalanan pulang membelikan biola untuk Nova.

“Benda itu punya nama, Kak. Benda itu pula yang membuatku tetap merasa hidup. Dan satu lagi, Ayah dan Ibu sudah meninggal dan aku tidak bisa menjadi dirinya. Aku punya jalan sendiri,“ kata-kata tersebut muncul begitu saja dari bibir Nova.

“Terserah, Kakak tidak mau lagi mendengarmu memainkan benda itu. “pernyataan terakhir yang keluar dari mulut kakaknya.

Tanpa mengucap sepatah kata pun Nova langsung berlari menuju kamarnya dengan air mata yang mengalir di kedua pipinya.

Setelah itu Nova berangkat ke sekolahnya. Dengan perasaan sedih dia melangkahkan kakinya menyusuri jalan kecil dengan pohon-pohon rindang yang berjajar di kanan kirinya itu. Saat Nova berjalan sendiri tiba–tiba seorang pria menghampirinya.

“Selamat pagi Nona manis, bagaimana kabarmu hari ini?” sapa pria tampan yang bernama Dava itu. Dava adalah kekasih Nova yang selalu mendampingi Nova di saat senang maupun sedih. Namun kakak Nova tidak menyetujui hubungan mereka karena Dava adalah anak seorang yang pernah menghuni penjara. Ayah Dava pernah dipenjara lantaran dia difitnah oleh rekan kerjanya.

Mendengar perkataan kekasihnya Nova tidak mengucap sepatah kata pun. Namun air matalah yang keluar menyambut sapaan kekasihnya itu yang membuat Dava merasa kebingungan.

“Apa yang telah terjadi padamu Nova?“ tanya Dava cemas.

“Aku tidak kuat Dava, aku tak sanggup menjalani semua ini,“ ucap Nova.

“Tenanglah Nova, aku akan selalu ada untukmu. Kau bisa menceritakan semuanya kepadaku,“ kata Dava menenangkan Nova dengan lembut.

Nova menceritakan semua yang dialaminya pada Dava. Davalah yang selama ini selalu ada dan mencintai Nova dengan tulus. Dia juga selalu mendukung kekasihnya itu dengan sepenuh hatinya. Tidak lama kemudian Dava berhasil menenangkan hati Nova dan mereka berdua melanjutkan perjalanan ke sekolah berdua.
Waktu pun berlalu dengan cepat. Bel tanda pulang sekolah berbunyi. Dava mengantar Nova pulang ke rumahnya. Mereka berjalan berdua di bawah terik matahari. Tanpa mereka sadari mereka telah sampai di depan rumah Nova.

“Sudah sampai ya? Ya sudah deh aku pulang dulu,” ucap Dava.

“Kamu gak mampir dulu?” tanya Nova pada Dava.

“Gak ah! Aku langsung pulang aja,” jawab Dava.

Dava pun pulang ke rumahnya. Sementara Nova masuk ke dalam rumahnya, di dalam rumah Nova terkejut karena ia melihat kakaknya sudah berada di dalam rumah. Tidak biasanya pada jam seperti ini kakak Nova sudah pulang dari kantornya.

“K….kakak? Kakak kok sudah pulang, inikan baru jam 3?” tanya Nova dengan perasaan takut.

“Kenapa,? kamu takut kakak melihatmu bersama pemuda tanpa masa depan itu? Sudah berapa kali Kakak bilang kepadamu untuk menjauhinya!?” bentak kakak Nova dengan keras.

Kakaknya punya alasan kenapa kakak Nova melarang Nova untuk bergaul dengan orang yang dikenal kakaknya kurang baik itu yaitu Dava. Karena kakaknya amat menyayangi adik satu-satunya, dan dia berjanji kepada orang tuanya untuk selalu menjaga adiknya itu yaitu Nova.

“Kenapa Kakak selalu memandang semua hal dari mana dia berasal, Dava tulus mencintai Nova. Walaupun dia anak seorang yang kakak benci namun dia selalu menjaga Nova,” jawab Nova.

Karena merasa sangat terpukul Nova langsung berlari menuju kamarnya. Di dalam kamar dia menangis memikirikan kepedihan pada dirinya. Setelah beberapa menit Nova menangis, Nova menghubungi Dava dan mengajaknya bertemu.

“Halo, Dava?” Nova berbicara di telepon sambil meneteskan air matanya.

“Iya, ada apa Nova?” jawab Dava penuh kebingungan mendengar suara Nova yang parau.

“Temui aku sore ini di taman. Aku sangat memerlukanmu,” kata Nova dengan lembut dan singkat.

“Baiklah Nova, aku pasti akan datang,” ucap Dava.

Tanpa mengucapkan kata-kata Nova langsung menutup teleponnya. Sementara Dava hanya bisa menunggu. Dava tidak mungkin menemui nova di rumahnya karena kakak Nova sangat membencinya dan Nova pasti ikut terkena imbasnya.

Sore yang ditunggu akhirnya tiba. Tampak di sebuah kursi kayu tua Nova duduk sendiri menunggu kedatangan Dava. Di tangannya dipegangnya sebuah biola yang siap mengalunkan sebuah lagu. Satu jam sudah Nova menunggu kekasihnya namun Dava belum juga tiba. Berkali-kali ia mencoba menghubungi Dava tetapi tidak ada jawaban.

“Dava kamu dimana?” tanya Nova dalam hati.

“Apa yang terjadi sama kamu?” lanjutnya.

Dengan sabar Nova masih menunggu Dava. Tidak lama kemudian titik-titik air mulai menetes di atas kepala Nova. Hujan tiba-tiba turun dengan derasnya membasahi seluruh tubuh Nova.

“Aku akan menunggumu di sini Dava, dan aku gak akan memainkan biola ini sebelum kamu datang menemui aku!” teriak Nova di tengah hujan dengan tetesan air mata yang terlinang dipipinya.

Hingga malam tiba Nova masih menunggu Dava. Dingin mulai menusuk tubuh kecil Nova yang tengah mengigil itu, hingga akhirnya tubuh Nova tak mampu lagi bertahan. Pandangannya menjadi gelap dan akhirnya Nova jatuh terbaring di atas tanah.
***
Perlahan-lahan Nova membuka matanya, sedikit demi sedikit pandangan Nova menjadi jelas. Ketika berada di rumah sakit dilihatnya di sekitarnya teman-temannya berdiri dengan tatapan cemas dan di sebuah pojok ruangan berdiri kakak Nova.

“Di mana aku? Dan di mana Dava, kok aku gak melihat dia?” ucap Nova perlahan. Namun bukannya menjawab teman-teman Nova hanya diam membisu dengan menampakkan raut kesedihan di wajah mereka.

“Kamu di rumah sakit, kemarin kami menemukanmu pingsan di taman,” kata salah seorang teman Nova.

“Tapi dimana Dava, kenapa ia tidak datang? Padahal dia sudah berjanji akan datang menemui aku.” dengan raut wajah cemas.

Mendengar perkataan Nova suasana ruangan itu menjadi sunyi. Karena tidak ada jawaban Nova terus mendesak hingga akhirnya salah seorang dari mereka menjawabnya.

“Begini Nova, kemarin Dava mengalami kecelakaan dalam sebuah perjalanan. Dokter sudah berusaha sebisa mungkin untuk menyelamatkannya tetapi itu semua sia-sia.” Mendengar penjelasan dari temannya itu tubuh Nova menjadi lemas.

“Gak, gak mungkin. Kalian semua bohong. Dava sudah berjanji padaku bahwa dia akan selalu ada bersamaku dan gak akan pernah meninggalkan aku!” teriak Nova dengan penuh kemarahan.

Tiba-tiba Nova bangun dari tempat tidurnya dan mencoba berlari untuak menemui Dava. Namun belum semapat keluar dari kamar rumah sakit Nova terjatuh. Segera teman-teman dan kakak Nova datang untuk membantunya dan menenangkannya.

“Kenapa, kenapa ini semua harus terjadi padaku? Ini semua salahku. Andai hari itu aku tidak mengajak Dava untuk bertemu aku, pasti semua ini gak akan terjadi.” Nova menangis dan terduduk di lorong lantai rumah sakit yang dingin itu.

“Sudahlah Nov, ini semua bukan salahmu. Ikhlaskan saja dia pergi, masih ada banyak cinta untukmu,” kata kakak Nova seraya mengelus rambut Nova.

“Kakak senang kan dengan semua ini? Pasti dalam hati Kakak sedang tertawa terbahak-bahak,” kata Nova kepada kakaknya. Nova pun kembali bangkit dan mencoba untuk keluar dari kamar rumah sakit itu. Akan tetapi sekali lagi Nova terjatuh dan teman-teman Nova kembali menolongnya, namun kali ini kakak Nova hanya diam saja melihat adiknya itu tanpa bisa berbuat apa-apa.

Satu hari telah berlalu, namun kesedihan masih tampak pada wajah Nova. Kenangan manisnya bersama Dava selama ini tidak bisa ia hapus dengan mudah. Setiap hari yang ia lakukan hanya menangis sambil memandang foto Dava. Karena teman-temannya merasa kasihan akhirnya mereka mengantar Nova ke tempat dimana Dava dimakamkan.

Sesampainya di tempat pemakaman pandangan Nova langsung tertuju pada sebuah makam yang bertuliskan Dava Wibisono. Nova pun lalu duduk di samping makam Dava sambil memainkan biola yang dibawanya di depan makam Dava untuk terakhir kalinya, sambil menangis mengenang seorang yang selama ini selalu mendampinginya. Setelah beberapa saat teman-teman Nova mengajak Nova untuk pulang ke rumah. Kali ini Nova hanya menurut permintaan teman-temannya itu dan menghentikan permainan biolanya.
***
Sebulan telah berlalu. Bukannya semakin membaik kondisinya, keadaannya justru bertambah buruk. Sekarang Nova menjadi seorang gadis pendiam. Yang ia lakukan hanya mengurung diri di kamarnya. Begitu banyak temannya yang mencoba menghiburnya namun tidak ada yang berhasil. Penyesalan itu selalu datang menghantuinya.

Prestasinya di sekolahpun semakin memburuk. Bahkan yang lebih parah Nova menjadi sangat benci dengan biola yang selama ini sudah ia anggap seperti temannya karena ia berpikir bahwa biola tersebut juga ikut menyebabkan Dava meninggal. Melihat keadaan adiknya yang seperti itu kakak Nova memutuskan untuk mengirim Nova sekolah di Bandung.

“Nova, Kakak mau berbicara denganmu dan kali ini Kakak harap kamu akan menuruti semua perkataan Kakak,” perintahnya kepada Nova.

“Demi masa depan kamu Kakak memutuskan untuk menyekolahkanmu di Bandung,” kata kakak Nova tegas. Dan kakaknya pun berjalan menuju pintu kamarnya.

“Apa Kakak sadar berbicara seperti itu? Aku gak mungkin meninggalkan Dava sendirian di sana. Aku akan selalu menjaganya,” balas Nova dengan penuh keyakinan.

“Kali ini kamu tidak bisa menolak permintaan Kakak. Semua ini Kakak lakukan demi kebaikanmu juga. Kamu tidak mungkin selamanya hidup dalam kesedihanmu sendiri,” bentak kakak Nova yang kembali. Namun kali ini Nova tidak menjawab perkataan kakaknya itu.

Akhirnya Nova bersiap berangkat ke Bandung dengan perasaan sedih. Nova masih belum siap untuk meninggalkan semua kenangannya bersama Dava walaupun sepenuhnya ia sadar bahwa Dava memang sudah meninggal.
***
Akhirnya Nova tiba di Bandung dengan selamat. Di Bandung Nova bersekolah di sebuah sekolah internasional dan tinggal di asrama sekolah itu. Walaupun sudah berada di tempat yang baru, namun Nova belum juga dapat melupakan Dava.

Di suatu sore Nova pergi jalan-jalan untuk menghilangkan kesedihannya. Nova hanya berjalan sendirian karena belum mendapat teman di sekolah barunya. Di tengah perjalanannya Nova melewati sebuah jembatan dan tiba-tiba dia berpikir untuk bunuh diri dengan cara melompat dari atas jembatan. Nova pun naik ke atas jembatan itu, beberapa saat kemudian dia bersiap untuk melompat dari jembatan. Tetapi tubuh Nova ditarik oleh seorang laki-laki dan dia jatuh kembali ke atas tanah.

“Kamu sudah gila ya?” kata laki-laki itu dengan penuh ketakutan.

“Kamu kan bisa mati, apa kehidupan ini sudah begitu buruknya untukmu?” lanjut laki-laki manis itu.

“Sudahlah, masih banyak yang bisa kamu lakukan di dunia ini. Tanpa kamu sadari sesungguhnya masih banyak orang yang menyayangi dan membutuhkanmu,” ucap laki-laki itu sambil mencoba membangunkan Nova.

“Lepaskan aku, aku hanya ingin mati. Apa kau tahu penderitaan yang aku alami, apa kau merasakan rasa yang kini ada di hatiku? Kau tidak tahu apa-apa,” bentak Nova sambil mengibaskan tangan laki-laki itu dari bahunya.

“bleek!”

Laki-laki itu memeluk Nova hingga membuat Nova terdiam.

“Aku memang tidak tahu apa yang sedang kau rasakan dan apa yang telah kau alami. Namun satu hal yang pasti kematian itu tidak akan menyelesaikan semua masalah yang sedang kau hadapi.” Laki-laki itu memeluk Nova untuk menenangkanya.

Mendengar perkataan laki-laki yang belum pernah ditemuinya sebelumnya itu pandangan Nova yang tadinya tajam kini telah berubah menjadi sayu. Setelah itu keduanya berkenalan. Laki-laki itu ternyata bernama Dodi. Seorang laki-laki yang kebetulan adalah teman satu sekolah Nova. Setelah berhasil menenangkan Nova, Dodi mengajak Nova untuk kembali ke asrama sekolah mereka. Dan semenjak saat itu keduanya menjadi sahabat.
Suatu hari Dodi mengajak Nova pergi berjalan-jalan. Nova menurut saja ajakan Dodi itu. Setelah beberapa saat mereka berjalan sampailah keduanya di sebuah toko musik.

“Selamat datang di sini Nova, setelah mendengar semua ceritamu aku rasa ini tempat yang sangat cocok untukmu,” kata Dodi dengan senyum manis terukir di wajahnya.

“Apa maksudmu Dodi?” jawab Nova dengan penuh keheranan.

“Di sini kamu bisa memainkan biola dan mengekspresikan perasaanmu,” balas Dodi sambil menyodorkan sebuah biola kepada Nova.

Mendengar perkataan Dodi, Nova kembali teringat akan masa lalunya. Namun kali ini Nova tidak menangis seperti biasanya. Kini Nova sudah menjadi lebih kuat berkat dukungan Dodi.

“Gak ah, aku tidak mau.” Hanya kata itu yang terucap dari bibir kecil Nova.

“Lho kenapa? bukankah kamu sangat senang bermain biola?” tampak Dodi meyakinkan Nova.

Bukannya menjawab Nova keluar begitu saja dari toko musik itu. Melihat kejadian itu Dodi merasa tidak enak, maka dengan segera ia menyusul Nova. Setelah berhasil menyusul langkah Nova, Dodi mengajaknya pergi kesebuah taman yang asri nan indah. Sesampainya di taman Dodi dan Nova duduk di sebuah bangku taman yang kelihatan tua.

“Va, maafin aku ya! bukan maksud aku membuatmu sedih,” kata Dodi pelan.

“Gak apa-apa kok, aku gak sedih hanya saja aku sudah berjanji gak akan memainkan biola lagi, aku takut Dava akan marah padaku,” balas Nova.

“Aku yakin Dava disana gak akan marah. Dia pasti menginginkan yang terbaik bagimu dan dia juga pasti akan senang melihatmu memainkan biola itu lagi,” ucap Dodi sambil memegang kedua tangan Nova.

Setelah beberapa saat mereka berbicara akhirnya Dodi memutuskan untuk pulang dan mengantar Nova keasramanya. Sesampainya di asrama Nova, Nova langsung pergi ke kamarnya, karena tidak ingin merasakan kesedihan kembali maka Nova memutuskan untuk tidur. Kemudian Dodi segera kembali kerumahnya tidak jauh dari asrama Nova.
***
Pada suatu pagi, Nova berjalan sendirian di tengah-tengah padang rumput yang masih basah oleh tetes-tetes embun. Sementara dingin kabut masih menyelimuti tubuhnya yang kecil itu. Di tengan kesendiriannya itu dilihatnya sesosok laki-laki berdiri dengan memakai pakaian putih yang tidak asing lagi baginya. Laki-laki itu adalah Dava.

“Gak mungkin, ini gak mungkin terjadi,” pikirnya dalam hati.

Tiba-tiba laki-laki itu membalikkan badannya dan benar apa yang dipikirkan Nova. Dava kini berdiri tepat dihadapannya. Nova yang hanya bisa diam tidak percaya akan semua yang dialaminya itu. Tanpa mengucap sepatah kata pun Dava menyodorkan sebuah biola kepada Nova.

“Yang terbaik bagimu takkan kubiarkan begitu saja pergi meninggalkanmu,” ucap Dava sambil tersenyum kecil kepada Nova.

Setelah memberikan biola tersebut Dava langsung pergi begitu saja tanpa sepatah katapun. Nova ingin mengejarnya namun apa daya langkah Dava terasa sangat cepat dan Nova seolah-olah hanya berlari di tempat. Karena merasa tidak berdaya akhirnya Nova berteriak sekeras-kerasnya.

“Davaaaaa, tunggu…., Davaaaaa….!” Nova terus beteriak memanggil nama Dava hingga sebuah suara datang menghampirinya.

Dodi yang kebetulan mau mengambil jam tanganya yang terjatuh di pintu kamar Nova. Penasaran mendengar suara Nova yang teriak-teriak dari dalam kamar, Dodi pun masuk kamar Nova yang kebetulan tidak dikunci.

“Nova bangun, bangun.” Dodi yang sedang membangunkan Nova dari tidurnya.

“Va ada apa? “ ucap Dodi.

“Dava Di, tadi aku bertemu Dava!” katanya dengan semangat.

“Dia bahkan memberikan kepadaku sebuah biola!” lanjutnya.

Seolah tidak percaya dengan apa yang telah dikatakan oleh Nova, Dodi diam sejenak tanpa memberikan komentar apapun kepada Nova. Lalu Dodi tiba-tiba keluar dari kamar Nova dan tidak lama kemudian kembali lagi dengan membawa sebuah biola di tangannya. Nova yang melihat hal tersebut langsung mengerutkan dahi. Ternyata biola yang dibawa Dodi tersebut adalah biola yang diberikan Dava kepada Nova di dalam mimpinya.

“Kalau memang benar ini adalah biola yang kamu maksud, aku yakin Dava pasti ingin kamu kembali memainkan biola ini seperti dahulu kembali,” ucap Dodi sambil meyodorkan biola kepada Nova.
***
Semenjak kejadian tersebut kini kehidupan Nova kembali seperti dulu. Nova kembali menjelma menjadi seorang gadis periang yang selalu menebarkan kebahagiaan untuk orang-orang di sekitarnya. Dan yang terpenting yaitu kini Nova kembali menyayangi biola yang telah lama ia tinggalkan itu. Dan pada suatu sore Nova mengajak Dodi pergi ke teman yang ada di dekat asrama mereka.

“Dulu Dava aku ajak bertemu di sebuah taman untuk mendengarkan alunan biolaku, dan sekarang aku akan mewujudkan semua itu,” ucap Nova dengan semangat.

“Baiklah aku akan siap mendengarkan alunan indah biolamu,” kata Dodi yang sudah duduk di atas hijaunya rumput taman itu.

Nova pun memainkan biolanya dengan sangat indah. Orang-orang yang melewati taman itu langsung terhenti dan melihatnya. Mereka semua tercengang mendengar nada-nada yang keluar dari gesekan dawai biola tersebut. Namun di tengah-tengah keindahan suasana tersebut tiba-tiba Nova jatuh pingsan. Orang-orang yang melihat kejadian tersebut langsung mengerumuni Nova, tidak terkecuali Dodi yang terkejut.

“Va, ada apa denganmu? Seseorang tolong panggilkan ambulan!” teriak Dodi di tengah-tengah kerumunan orang-orang.

Akhirnya Nova dibawa ke rumah sakit, setelah dokter memeriksanya ternyata Nova mengidap kanker otak dan usia Nova tidak panjang lagi. Mendengar hal tersebut keduanya bagai disambar petir. Dodi hanya bisa memeluk Nova yang terdiam untuk menenangkannya, seolah tidak percaya akan apa yang telah didengarnya.

“Di, aku harap kamu tidak mengatakan semua ini kepada siapapun juga, bahkan kepada kakakku,” ucap Nova pelan.

“Tapi, Kakakmu harus tahu semua ini Va!” balas Dodi sambil memegang kedua tangan Nova.

“Please Di, berjanjilah padaku. Kali ini saja kumohon!” dengan wajah penuh kesedihan.

Akhirnya Dodi hanya bisa mengiyakan perkataan sahabatnya itu. Walaupun sebenarnya dodi merasa kasihan kepada Nova.

Hari-hari berlalu, kondisi Nova menjadi semakin parah. Ia sering pingsan dan mengalami rasa sakit yang luar biasa. Karena merasa kasihan akhirnya Dodi memutuskan untuk pergi menemui kakak Nova dan menceritakan apa yang telah terjadi.

“Selamat siang, apa benar ini rumah Setiawan?” tanya Dodi pada kakak Nova.

“Iya saya sendiri, silakan masuk.” Kakak Nova mempersilahkan Dodi untuk masuk ke dalam rumahnya.

Setelah memasuki rumah dan memperkenalkan dirinya, Dodi pun menceritakan semuanya pada kakak Nova. Tentu saja kakak Nova tidak begitu saja percaya akan perkataan laki-laki yang baru dikenalnya itu. Namun setelah beberapa kali diyakinkan akhirnya kakak Nova percaya juga.

“Tapi kenapa Nova tidak pernah memberitahuku? Apa dia sudah tidak menganggapku lagi sebagai kakaknya, Apakah dia sudah tidak menyayangiku lagi?” ucapnya dengan rasa sedih.

“Justru sebaliknya, Nova sangat menyayangi Anda dan sangat menghormati Anda. Sebelumnya maaf kalau saya ikut campur namun saya rasa Andalah yang terlalu memaksakan keinginan Anda kepada Nova,” kata Dodi kepada kakak Nova.

Setelah keduanya berbicara panjang lebar akhirnya mereka memutuskan untuk segera kembali ke Bandung. Mereka berdua langsung berangkat karena segera ingin bertemu dengan Nova.
***
Sesampainya di Bandung keduanya langsung mendatangi asrama Nova dan menuju kamarnya. Namun di dalam kamarnya ternyata Nova tidak ada, keduanya langsung berlari keluar kamar tersebut dan mencari Nova di seluruh penjuru sekolah asrama itu dan meneruskan pencariannya di luar asrama. Berjam-jam mereka mencari dan tidak membuahkan hasil hingga mereka melihat sekelompok orang berdiri di sebuah taman sedang mengerumuni seorang gadis yang sedang bermain biola.

“Itu pasti Nova, aku yakin itu!” kata Dodi pada kakak Nova sambil menunjuk keramaian itu.

“Benar, itu Nova ayo kita segara menuju ke sana!” ajak kakak Nova.

Mereka berdua segera berlari menuju keramaian tersebut, dilihatnya orang-orang yang terdiam memandang Nova yang sedang memainkan biolanya dengan indah. Dari wajah mereka terpancar kesedihan yang sangat mendalam. Karena terbawa oleh suasanya yang seperti itu kakak Nova menitihkan air matanya. Setelah selesai memainkan biolanya tiba-tiba Nova jatuh di atas pasir yang putih. Melihat hal tersebut kakak Nova langsung berlari mendatangi adiknya.

“Kak, maafkan Nova. Nova tidak bisa menjadi apa yang kakak harapkan,” ucap Nova yang bersandar di pangkuan kakaknya.

“Kamu tidak perlu meminta maaf, Kakaklah yang salah terlalu memaksakan kehendak Kakak, karena Kakak sangan menyayangimu,” kata Kakak Nova dengan air mata masih mengaliri pipinya.

“Kak, kakak mau menggendong Nova? Nova ingin berjalan-jalan di pantai ini Kak!” pinta Nova pada kakaknya.

Tanpa menunggu lagi kakak Nova langsung menggendong Nova di punggungnya diajaknya anaknya itu jalan-jalan menyusuri pantai dengan diiringi matahari yang sudah hampir tenggelam ditelan cakrawala. Sementara Dodi hanya mengikuti keduanya dari belakang.

“Dulu ketika Ayah dan Ibu semasa hidup dia sangat senang bermain di pantai bersamamu, apakah kamu masih ingat saat kita bertamasya bersama dan kamu sembunyi sehingga membuat kami semua kebingungan?” tanya kakak Nova.

Tidak ada jawaban yang terucap dari Nova. Dia hanya diam dan membisu. Kakak Nova baru menyadari kalau anaknya sudah meninggal. Namun dengan langkah berat dia tetap menggendong Nova sambil menceritakan kenangan masa kecil Nova yang penuh keceriaan sambil meneteskan air matanya pada butiran pasir yang terhampar. Dodi juga menyadari kejadian itu dan hanya menangis di belakang keduanya.

Kini gadis itu telah pergi untuk selamanya. Dia meninggalkan sejuta kenangan untuk orang-orang di sekitarnya. Akhirnya Nova dimakamkan di sebelah makam Dava. Di atas makam itu diletakkan biola kesayangan Nova. Dan kini cinta antara Nova, Dava dan biolanya kembali menyatu.
http://fjsebuahcoretan.blogspot.com
Madiun, 4 Maret 2009

1 komentar:

Jihan mengatakan...

Akhirnya selesai juga kuw baca ceritamuww..........
panjang amat ah!!!!!!!!!!!!!!!
kuw copy di MW pe 11 halaman,,,,,
Berapa hari bikinnya fa??????????
Trus dapet inspirasi dari mana??????????
hehehe sory kuw tanyanya borongan,,,,,,,,,,,

Tapi bagus kuk fa...........
Bagus banget
so sweet...........
dasar kamu ternata bisa juga ya bikin cerita-cerita romantis gini
hwahahahaha..........

fa......... Aku meh tanya...........
Jadi Dava, Nova, ma biolanya kan udah kembali menyatu cintanya,,, nah... Nova kan sayang Dava jadi waktu Dava meninggal dia stress. Trus.... nie kakaknya Nova ma Dodi kan sayang nova juga. Trus Novanya meninggal mereka stress gag???? Hehehe...(kalo diceritain lagi kapan rampungnya tuwww)
hehehe lupakan.......

Kamu bisa juga ya jadiin tokoh utamanya cewek.... jarang-jarang anak cowok bisa bikin cerpen yang tokoh utamanya cewek. Aku aja yang cewek pengen bikin cerpen yang tokoh utamanya cowok susah banget. Kalo aku bikin cerpen yang tokoh utamanya cowok kesannya cowoknya tu gag cowok banget. Ngerti gag maksudnya????

Btw Ini bagus juga lo dikembangin jadi novel..........
ceritanya kayak chapter gituw...

good luck deh buat kamu fa...........

Posting Komentar